Tiga Serangkai IAS Mulai Terbentuk, Nurmal Idrus Ungkap Kekuatan Masing-Masing -->

Translate


Tiga Serangkai IAS Mulai Terbentuk, Nurmal Idrus Ungkap Kekuatan Masing-Masing

CELEBESINDO
Sabtu, 05 September 2026


Makassar, Celebesindo.com, Struktur inti kepengurusan DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) mulai lengkap.


Tiga nama yang berada di posisi strategis kini semakin jelas, yakni Supriansa sebagai Ketua Harian, Rahman Pina sebagai Sekretaris, dan Amirullah Nur Saenong sebagai Bendahara.


IAS sebelumnya memastikan Supriansa akan mendampinginya sebagai Ketua Harian dan Rahman Pina mengisi posisi Sekretaris. Terbaru, IAS juga memberikan amanah kepada Amirullah Nur Saenong sebagai Bendahara Golkar Sulsel periode 2026-2031.


Komposisi tersebut mendapat perhatian dari Direktur Nurani Strategic, Dr. Nurmal Idrus.


Menurut Nurmal, tiga figur tersebut memiliki karakter dan pengalaman berbeda yang justru bisa menjadi kekuatan jika ditempatkan dalam satu garis kerja organisasi.


“Saya kira itu komposisi terbaik. Ketiganya memiliki karakter dan kapasitas yang saling melengkapi,” ujar Nurmal. Minggu (6/9/2026). 


Nurmal melihat Supriansa sebagai figur yang dapat memainkan peran penting dalam konsolidasi internal Golkar Sulsel.


Menurutnya, posisi Ketua Harian membutuhkan figur dengan kapasitas politik yang mampu bergerak di tengah dinamika internal partai.


“Supriansa bisa memback up IAS dalam membingkai kepengurusan Golkar Sulsel yang masih terserak,” katanya.


Ia menilai Ketua Harian harus menjadi penggerak organisasi, bukan sekadar mengisi struktur.


“Ketua harian bukan sekadar posisi administratif, tetapi harus mampu menjadi penggerak organisasi ketika ketua berada pada ruang-ruang politik yang lebih luas,” ujarnya.


IAS sendiri sebelumnya menyatakan akan bersinergi dengan Supriansa untuk membesarkan kembali Golkar di Sulsel. Supriansa pun menyatakan siap menerima penugasan partai.


Untuk posisi Sekretaris, Nurmal menilai Rahman Pina memiliki pengalaman yang sesuai.


Rahman Pina sebelumnya pernah dipercaya sebagai Plt Sekretaris Golkar Sulsel dan kini juga menjabat Wakil Ketua DPRD Sulsel.


“Rahman Pina punya pengalaman sebagai sekretaris dan juga pengalaman sebagai pimpinan DPRD,” kata Nurmal.


Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal penting karena sekretaris harus mampu mengubah keputusan politik menjadi kerja organisasi.


“Sekretaris harus mampu menerjemahkan keputusan politik ketua menjadi kerja organisasi yang konkret,” ujarnya.


Dengan demikian, Rahman Pina diharapkan menjadi penghubung antara arah politik IAS dan pelaksanaan program organisasi di seluruh struktur Golkar Sulsel.


Sementara itu, Amirullah Nur Saenong kini mendapat amanah sebagai Bendahara Golkar Sulsel. IAS menyebut pihaknya tinggal menunggu jadwal pelantikan dari DPP.


Nurmal menilai posisi tersebut tidak kalah strategis. Organisasi politik dengan struktur besar membutuhkan kemampuan pengelolaan finansial agar seluruh agenda dapat berjalan.


“Amirullah Nur akan menjadi salah satu penopang finansial kepengurusan yang solid,” jelasnya.


Menurutnya, pengelolaan keuangan harus dilakukan secara kuat dan transparan.


“Organisasi sebesar Golkar Sulsel tentu membutuhkan kemampuan pengelolaan keuangan yang kuat, transparan dan mampu menopang seluruh agenda organisasi,” katanya.


Amirullah sendiri bukan figur baru dalam lingkar politik IAS. Sebelum bergabung ke Golkar, ia pernah menjadi Ketua DPC Demokrat Maros ketika IAS menjabat Ketua DPD Demokrat Sulsel. Ia juga pernah aktif di SOKSI Sulsel, salah satu organisasi pendiri Golkar.


Bagi Nurmal, keberadaan tiga figur tersebut memberikan IAS modal awal untuk menggerakkan organisasi.


Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan sebenarnya baru dimulai setelah struktur inti terbentuk.


“Kalau tiga nama ini benar-benar masuk dalam posisi KSB, IAS sudah memiliki mesin awal yang cukup kuat. Tinggal bagaimana komposisi di bawahnya disusun agar mampu mengakomodasi seluruh kekuatan yang ada di Golkar Sulsel,” ujarnya.


Nurmal mengatakan Golkar Sulsel memiliki banyak figur dengan kekuatan politik masing-masing. Karena itu, penyusunan struktur lengkap akan menjadi ujian penting bagi kepemimpinan IAS.


“Golkar Sulsel tidak kekurangan orang hebat. Tantangannya adalah bagaimana orang-orang hebat itu bisa ditempatkan dalam satu orkestrasi yang sama,” tegasnya.


Ia menilai empat posisi inti harus mampu menjadi simpul pemersatu seluruh kekuatan internal.


“Ketua, ketua harian, sekretaris dan bendahara harus menjadi simpul yang mampu mengikat seluruh kelompok,” pungkasnya.


Kini, setelah tiga posisi strategis tersebut mulai terisi, fokus Golkar Sulsel beralih pada penyusunan struktur lengkap.


Bagi IAS, pekerjaan rumahnya bukan lagi sekadar memilih figur, tetapi memastikan tiga kekuatan tersebut benar-benar menjadi satu mesin organisasi yang mampu mengembalikan Golkar sebagai kekuatan politik utama di Sulawesi Selatan.


(Red)