Suarni Suwardi Bawa Dekranasda Menyusuri Jejak Sejarah Soppeng di Villa Yuliana -->

Translate


Suarni Suwardi Bawa Dekranasda Menyusuri Jejak Sejarah Soppeng di Villa Yuliana

CELEBESINDO
Kamis, 10 September 2026


Soppeng, Celebesindo.com, Sejarah tidak cukup hanya disimpan. Ia perlu dikenali, diceritakan dan diwariskan agar tetap hidup di tengah masyarakat.


Pesan itu dibawa Ketua Dekranasda Kabupaten Soppeng, Hj. Suarni Suwardi, saat mengajak pengurus Dekranasda mengunjungi Villa Yuliana di Watansoppeng, Kamis (10/9/2026).


Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Suarni untuk mengajak jajaran Dekranasda melihat lebih dekat salah satu warisan sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan Kabupaten Soppeng.


Menurut Suarni, mengenal sejarah daerah merupakan bagian penting dalam membangun rasa bangga terhadap tanah kelahiran.


“Kalau kita ingin orang lain mengenal dan bangga dengan Soppeng, tentu kita sendiri harus lebih dulu mengenal dan bangga dengan sejarah, budaya dan potensi yang kita miliki,” ujar Suarni.



Ia menilai masih banyak kekayaan daerah yang sebenarnya berada sangat dekat dengan masyarakat, namun belum sepenuhnya diketahui nilai dan ceritanya.


Villa Yuliana menjadi salah satu contohnya.


Bangunan peninggalan masa kolonial tersebut telah lama berdiri di tengah Kota Watansoppeng. Bagi sebagian masyarakat, keberadaannya mungkin sudah menjadi pemandangan biasa.


Namun di balik bangunan itu terdapat perjalanan sejarah yang menjadikannya memiliki nilai lebih dari sekadar sebuah bangunan lama.


“Kadang kita setiap hari melihat sesuatu di sekitar kita, tetapi belum tentu kita tahu cerita dan nilainya. Karena itu, penting bagi kita untuk datang, melihat dan mengenal lebih dekat sejarah daerah sendiri,” kata Suarni.


Suarni melihat sejarah dan budaya memiliki hubungan yang kuat dengan pengembangan pariwisata.


Menurutnya, sebuah daerah akan lebih mudah diperkenalkan ketika memiliki cerita yang kuat. Karena itu, warisan sejarah seperti Villa Yuliana perlu dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.


Keberadaan museum di Villa Yuliana juga dinilai dapat menjadi ruang pembelajaran untuk memahami perjalanan sejarah serta kekayaan budaya Soppeng.


“Potensi wisata kita harus kita kenali dan kita banggakan. Kalau masyarakatnya sendiri mau datang dan mengenal, tentu akan lebih mudah bagi kita memperkenalkan Soppeng kepada orang lain,” ujarnya.


Bagi Suarni, promosi wisata seharusnya tidak hanya berbicara mengenai tempat yang indah. Identitas, sejarah dan budaya juga menjadi bagian penting yang membuat sebuah daerah memiliki daya tarik.


Hal tersebut sekaligus berkaitan dengan peran Dekranasda dalam mendorong perkembangan kerajinan daerah.


Kekayaan budaya Soppeng dapat menjadi sumber inspirasi bagi para perajin untuk menghasilkan karya yang memiliki ciri khas lokal. Dengan begitu, sejarah dan budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.


Suarni berharap masyarakat tidak menjadi sekadar penonton terhadap kekayaan daerahnya sendiri.


“Jangan sampai orang dari luar lebih dulu mengenal potensi daerah kita, sementara kita sendiri kurang mengenalnya. Kita harus menjadi orang pertama yang mencintai, menjaga dan memperkenalkan kekayaan Soppeng,” tuturnya.


Ia menilai rasa memiliki terhadap daerah harus dibangun dari hal sederhana: mau datang, melihat, bertanya dan memahami.


Dari Villa Yuliana, pesan itu kembali ditegaskan—bahwa Soppeng memiliki sejarah yang layak dikenali, budaya yang patut dijaga dan potensi yang pantas diperkenalkan lebih luas.


Sebab, daerah yang dikenal dan dicintai oleh masyarakatnya sendiri akan lebih mudah dikenalkan kepada dunia.


(YM)