Peta politik Sulawesi Selatan mulai mirip pertandingan catur yang bidaknya tiba-tiba bisa pindah papan.
Gerindra tampaknya memilih strategi paling sederhana: kalau tidak bisa mendatangkan gunung, ya datangkan saja para kepala daerah. Satu per satu bergabung. Seolah partai ini sedang membuka program "tukar tambah" elite politik. Semakin banyak kepala daerah merapat, semakin tebal pula keyakinan bahwa mesin elektoral bisa dipanaskan lebih awal.
Di kubu Golkar, ceritanya sedikit berbeda. Mereka seperti menemukan kembali kompas lama yang sempat tersimpan di laci. Hadirnya Ilham Sirajuddin memberi energi baru. Modal utamanya bukan sekadar popularitas, melainkan daya jelajah politik dan jaringan akar rumput yang masih sulit dianggap remeh. Dalam politik Sulsel, jaringan yang hidup sering kali lebih mahal daripada baliho yang besar.
Sementara itu, NasDem sedang menghadapi ujian psikologis. Kepergian RMS bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, tetapi juga berkurangnya salah satu magnet politik yang selama ini menjadi perekat kekuatan partai di berbagai daerah. Kini tantangannya bukan hanya mempertahankan kursi, melainkan membuktikan bahwa NasDem adalah institusi yang mampu berdiri di atas sistem, bukan semata bertumpu pada figur.
Namun politik selalu punya selera humor yang unik. Hari ini lawan, besok kawan. Hari ini pindah partai, besok pindah lagi narasi. Yang abadi bukanlah koalisi, melainkan kepentingan dan peluang.
Jadi, menjelang 2029, Sulsel tampaknya akan menjadi panggung yang ramai. Gerindra sedang mengumpulkan jenderal, Golkar sedang menghidupkan pasukan, sementara NasDem sedang memastikan bahwa kehilangan satu nahkoda tidak membuat kapalnya kehilangan arah.
Pada akhirnya, rakyatlah yang akan menjadi juri. Sebab dalam demokrasi, tepuk tangan elite belum tentu sama dengan suara di bilik TPS.
*#nurmalMIND*

