Target pertumbuhan ekonomi Kabupaten Soppeng sebesar 6,12 persen tentu layak diapresiasi. Daerah memang harus punya mimpi. Tetapi, seperti kata pepatah, mimpi yang baik tetap butuh alarm agar benar-benar bangun dan bekerja.
Angka 6,12 persen jangan hanya tumbuh di dokumen KUA-PPAS. Yang jauh lebih penting adalah ekonomi masyarakat yang benar-benar ikut tumbuh. Sebab, masyarakat tidak belanja menggunakan grafik, tetapi menggunakan pendapatan.
Kalau ingin mengejar pertumbuhan ekonomi, mesin utamanya adalah sektor riil. Di sinilah pemerintah daerah perlu memberi tenaga ekstra.
Perbaiki jalan dan jembatan agar biaya distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan UMKM semakin murah. Jangan sampai hasil panen sudah bagus, tetapi ongkos mengangkutnya lebih mahal daripada harga jualnya.
UMKM juga jangan hanya didata setiap tahun. Mereka lebih membutuhkan akses permodalan, pendampingan usaha, kepastian pasar, dan ruang promosi yang lebih luas. UMKM tidak butuh banyak seminar, mereka butuh lebih banyak pembeli.
Potensi pertanian, peternakan, pariwisata, dan ekonomi kreatif Soppeng juga harus dihubungkan dalam satu ekosistem. Jangan berjalan sendiri-sendiri seperti gerbong kereta yang lupa membawa lokomotif.
Pertumbuhan ekonomi yang sehat bukan sekadar angka yang naik, tetapi ketika lapangan kerja bertambah, usaha kecil berkembang, pendapatan masyarakat meningkat, dan anak-anak muda memilih membuka usaha di kampungnya daripada terpaksa mencari peluang di luar daerah.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa indah angka di dalam dokumen, tetapi seberapa sering masyarakat mengatakan, "Alhamdulillah, ekonomi memang terasa lebih baik." Kalau itu yang terjadi, angka 6,12 persen bukan hanya sukses di atas kertas, tetapi juga sukses di dapur masyarakat.
*#nurmalMIND*

