Pangkep, Celebesindo.com, Di tengah melonjaknya harga pakan ikan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin menghadirkan solusi sederhana yang dapat diterapkan hampir di setiap rumah. Hanya dengan memanfaatkan baskom bekas, air, dan bibit tanaman air Lemna, masyarakat kini dapat memproduksi pakan alami ikan secara mandiri dengan biaya yang jauh lebih murah.
Inovasi tersebut diperkenalkan Tim KKN Universitas Hasanuddin Gelombang 116 melalui kegiatan sosialisasi budidaya Lemna di Dasa Wisma Desa Pitue, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkep, Selasa (21/7/2026). Sebanyak 15 peserta yang didominasi ibu-ibu PKK dan anggota Dasa Wisma mengikuti pelatihan yang dikemas dengan materi sekaligus praktik langsung.
Program ini lahir dari persoalan yang banyak dikeluhkan pembudidaya ikan, yakni terus naiknya harga pakan komersial. Saat ini harga satu karung pakan seberat 30 kilogram hampir menyentuh Rp300 ribu atau sekitar Rp10 ribu per kilogram, sehingga biaya produksi tambak semakin membebani petani.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN menawarkan Lemna sebagai alternatif pakan alami yang murah, mudah dibudidayakan, dan berpotensi diproduksi secara berkelanjutan di pekarangan rumah.
Lemna atau yang oleh sebagian masyarakat dikenal sebagai "mata lele" merupakan tanaman air kecil yang mengapung di permukaan. Tanaman ini memiliki kandungan protein kasar sekitar 25–40 persen dalam bentuk kering, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan tambahan bagi berbagai jenis ikan budidaya. Keunggulan lainnya adalah pertumbuhannya yang sangat cepat sehingga dapat dipanen berkali-kali tanpa perlu melakukan penanaman ulang.
"Kami memilih Lemna karena saat ini harga pakan ikan semakin mahal. Salah satu solusi untuk menekan biaya tersebut adalah memanfaatkan Lemna sebagai pakan alami ikan. Budidayanya juga sangat mudah karena cukup menggunakan baskom bekas, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja di rumah masing-masing. Selain itu, bibit Lemna juga mudah diperbanyak dan dapat dibagikan kepada warga lainnya," ujar Andi Alifia Rifani Ukkas, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin yang menjadi pemateri kegiatan.
Tak sekadar memberikan penjelasan teori, tim KKN juga mengajak peserta mempraktikkan langsung cara membudidayakan Lemna. Mulai dari menyiapkan baskom, membuat media tanam menggunakan pupuk kandang yang telah direndam, menebarkan bibit, hingga teknik perawatan dan pemanenan.
Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai cara menjaga kualitas media budidaya, seperti menempatkan wadah di lokasi yang memperoleh sinar matahari pagi, menjaga kebersihan air, serta mengganti sebagian air apabila daun Lemna mulai menguning.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Salah seorang peserta, Ibu Lina, menanyakan waktu panen pertama sekaligus cara pemberian Lemna kepada ikan.
"Lemna dapat dipanen sekitar 3–7 hari, tergantung kondisi air, cuaca, dan lingkungan budidaya. Setelah dipanen, Lemna dapat langsung diberikan kepada ikan dalam keadaan segar ataupun dikeringkan terlebih dahulu sebelum dicampurkan ke dalam pakan komersial," jelas Andi Alifia.
Ketua BPD Desa Pitue, H. Bachtiar, menyambut baik inovasi sederhana tersebut. Menurutnya, teknologi yang diperkenalkan mahasiswa sangat mudah diterapkan masyarakat karena tidak membutuhkan lahan luas maupun peralatan mahal.
"Kami akan mencoba membudidayakan Lemna terlebih dahulu di Dasa Wisma. Apabila hasilnya baik, bibitnya akan kami bagikan kepada masyarakat agar semakin banyak warga yang dapat memanfaatkannya sebagai pakan alami ikan," katanya.
Melalui kegiatan ini, Tim KKN Universitas Hasanuddin berharap masyarakat mampu memanfaatkan lahan pekarangan untuk menghasilkan pakan ikan sendiri. Selain mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, budidaya Lemna juga diharapkan menjadi langkah sederhana menuju usaha perikanan yang lebih hemat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Fakta Singkat Budidaya Lemna
Mengandung protein kasar sekitar 25–40 persen (basis kering).
Dapat dibudidayakan hanya menggunakan baskom atau ember.
Panen pertama bisa dilakukan dalam 3–7 hari tergantung kondisi lingkungan.
Bisa diberikan langsung kepada ikan atau dicampur dengan pakan komersial.
Membantu menekan biaya produksi budidaya ikan di tengah kenaikan harga pakan.
Mudah diperbanyak sehingga bibit dapat dibagikan kepada masyarakat lain.
(Red)

