Suara Kritis Dunia Pendidikan Menggema, Nilai Ki Hajar Dewantara Kembali Digaungkan: Fokus pada Kualitas, Bukan Isu -->

Translate


Suara Kritis Dunia Pendidikan Menggema, Nilai Ki Hajar Dewantara Kembali Digaungkan: Fokus pada Kualitas, Bukan Isu

CELEBESINDO
Sabtu, 02 Mei 2026


Soppeng, Celebesindo.com, Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap mutu pendidikan, suara kritis kembali mencuat dan menggugah kesadaran berbagai kalangan. Seruan untuk kembali pada nilai-nilai luhur pendidikan pun menguat, khususnya ajaran dari Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya keteladanan sebagai fondasi utama dalam dunia pendidikan. Sabtu (2/5/2036). 

Fenomena yang menjadi sorotan saat ini adalah kecenderungan sebagian oknum yang dinilai lebih aktif membicarakan isu-isu yang belum tentu kebenarannya dibandingkan menghadirkan kontribusi nyata di lingkungan sekolah. Kondisi ini dinilai berpotensi mengaburkan tujuan utama pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sejumlah kalangan pendidikan menilai, sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kualitas dan integritas, bukan justru menjadi ruang berkembangnya asumsi yang tidak berdasar. Dalam konteks ini, muncul pernyataan yang kini ramai digaungkan, “Kalau belum bisa memberi contoh yang baik, setidaknya jangan menambah cerita yang tidak perlu.” Kalimat tersebut dinilai sebagai bentuk kritik yang halus namun sarat makna terhadap fenomena yang terjadi.

Lebih lanjut, penegasan bahwa dunia pendidikan membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar narasi tanpa substansi, semakin memperjelas arah perubahan yang diharapkan. Prinsip ing ngarso sung tulodo—yang berarti di depan memberi teladan—kembali relevan untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan peran sebagai pendidik maupun bagian dari ekosistem pendidikan.

Selain itu, ajakan untuk melakukan introspeksi diri juga semakin menguat. Pernyataan seperti “Mengoreksi diri jauh lebih mulia daripada sibuk mengoreksi orang lain tanpa cermin” menjadi pengingat bahwa profesionalisme tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kedewasaan dalam bersikap dan berkomunikasi.

Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, kehati-hatian dalam menyampaikan pendapat menjadi sangat penting. Tidak semua informasi yang beredar layak untuk langsung disebarkan, terutama jika belum memiliki dasar kebenaran yang jelas. Menjaga etika dalam berbicara dan bersikap dinilai sebagai bagian penting dalam menjaga marwah dunia pendidikan.

Pengamat pendidikan menilai bahwa momentum ini harus dimanfaatkan sebagai titik balik untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh. Seluruh elemen, mulai dari tenaga pendidik, pemangku kebijakan, hingga masyarakat, diharapkan dapat mengarahkan energi pada peningkatan kualitas pendidikan secara konkret.

Pada akhirnya, publik akan memberikan penilaian berdasarkan hasil dan dampak nyata yang dirasakan, bukan dari seberapa besar atau seringnya sebuah isu dibicarakan. Sejalan dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan sejati lahir dari keteladanan, kerja nyata, dan komitmen untuk terus memperbaiki diri.

(Red)