Malili, Luwu Timur, Celebesindo.com, Warga Desa Atue, Kecamatan Malili, kini menghadapi krisis yang tidak hanya mengancam mata pencaharian mereka, tetapi juga kelangsungan ekosistem setempat. Sungai Ussu, sumber utama air desa, kini berubah menjadi cokelat kemerahan dan keruh, mengganggu kualitas air tambak yang menjadi hidup bagi para petani udang.
“Dulu empat bulan saja udang bisa panen. Sekarang sampai tujuh bulan belum juga siap,” ungkap SN, salah seorang petambak, dengan wajah lesu. Tingkat kematian udang meningkat drastis, bahkan udang yang baru sebulan sudah mulai mati, kata As, petambak lainnya.
Perubahan drastis ini dikaitkan dengan aktivitas pertambangan di sekitar wilayah tersebut. Warga menduga jebolnya kolam limbah milik PT Prima Utama Lestari (PT PUL) menjadi sumber pencemaran, meski perusahaan belum memberi pernyataan resmi.
Air tambak yang keruh membuat pergantian air rutin hampir mustahil dilakukan, sementara pasang besar memaksa mereka memasukkan air sungai yang tercemar, risiko yang bisa memusnahkan seluruh panen. Para petambak pun berada dalam dilema: menjaga kualitas air atau menghadapi kerusakan tambak.
“Tambak ini ada jauh sebelum tambang. Kami berharap ada perhatian serius, tidak hanya soal keuntungan industri, tapi juga nasib warga yang menggantungkan hidupnya di sini,” ujar salah seorang warga. Jum'at (3/4/2026).
Hingga kini, Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur dan PT PUL belum memberikan tanggapan resmi. Warga berharap perhatian pemerintah segera hadir, demi mencegah bencana lingkungan yang lebih luas dan kerugian ekonomi yang semakin parah.
Krisis ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tentang keadilan lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Setiap hari, mereka menatap sungai yang dulu jernih, kini hanya menyisakan kekhawatiran dan pertanyaan: siapa yang akan bertanggung jawab atas masa depan tambak dan anak-cucu mereka?
(Isk)

