HEBOH! Women’s Talk di Makassar Ini Bongkar Fakta Mengejutkan, Kampus Disebut Jadi Kunci Gerakan Perempuan dari Lokal ke Dunia -->

Translate


HEBOH! Women’s Talk di Makassar Ini Bongkar Fakta Mengejutkan, Kampus Disebut Jadi Kunci Gerakan Perempuan dari Lokal ke Dunia

CELEBESINDO
Kamis, 23 April 2026


Makassar, Celebesindo.com,— Sebuah forum perempuan yang digelar di Kota Makassar mendadak menyita perhatian. Bukan sekadar diskusi biasa, kegiatan Women’s Talk Series ini disebut-sebut sebagai titik awal lahirnya gerakan perempuan dari kampus menuju level global. Pernyataan para pembicara bahkan menyinggung isu besar: kesetaraan gender, kekerasan seksual di kampus, hingga hubungan perempuan dengan masa depan bumi.


Kegiatan yang digelar Women’s Program Nasaruddin Umar Official (NUO) bersama Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Alauddin Makassar ini berlangsung di Ballroom Hotel Sultan Alauddin, Kamis (24/4/2026). Mengangkat tema “Perguruan Tinggi sebagai Epicentrum Pengetahuan: Membentuk Gerakan Perempuan Lokal to Global”, forum ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar yang menyampaikan pandangannya secara daring.


Dalam pemaparannya, Nasaruddin menegaskan bahwa kampus tidak boleh hanya mencetak lulusan. Ia menilai perguruan tinggi harus menjadi ruang transformasi yang melahirkan kesadaran kritis, terutama bagi perempuan. Pernyataan ini langsung memantik perhatian peserta karena menyoroti peran kampus sebagai pusat perubahan sosial.


Menurutnya, perempuan masa kini harus memiliki kesadaran yang tidak hanya akademik, tetapi juga teologi dan ekoteologis. Ia menilai perjuangan kesetaraan gender tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan. “Keadilan terhadap perempuan dan keadilan terhadap alam adalah dua sisi dari nilai yang sama,” ujarnya.


Pernyataan tersebut memicu diskusi hangat. Ia menekankan bahwa gerakan perempuan tidak boleh berhenti pada wacana. Gerakan itu, kata dia, harus dimulai dari ruang kecil seperti kampus, komunitas, dan lingkungan sekitar, lalu berkembang hingga ke level global.


Sementara itu, Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Hamdan Juhannis menegaskan bahwa kampusnya telah menerapkan prinsip emansipasi perempuan dalam praktik kelembagaan. Ia menyebut UIN Alauddin sebagai salah satu perguruan tinggi di Sulawesi Selatan yang lebih dulu memberi ruang bagi perempuan untuk menduduki posisi tertinggi.


Menurutnya, kampus tersebut pernah dipimpin oleh rektor perempuan, Prof. Andi Rasdiana. Ia menilai langkah tersebut menjadi bukti bahwa perempuan memiliki peluang yang sama untuk memimpin institusi pendidikan tinggi.


Tak kalah menarik, Direktur Women’s Program NUO Andi Tenri Wuleng mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ia menyebut kolaborasi ini memiliki agenda besar, termasuk memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus.


Ia menyoroti tingginya antusiasme mahasiswa yang hadir dalam forum tersebut. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan berkelanjutan yang mampu menciptakan kampus aman bagi perempuan.


Ketua PSGA LP2M UIN Alauddin Makassar Prof. Djuwariah Ahmad juga menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif di lingkungan perguruan tinggi. Ia mengatakan PSGA telah menjalankan berbagai program, termasuk kampanye zero tolerance terhadap kekerasan seksual.


Ia berharap kegiatan ini dapat memperkuat gerakan tersebut dan mendorong kampus menjadi ruang aman bagi seluruh civitas akademika. Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi garda depan dalam menciptakan lingkungan bebas kekerasan.


Dalam sesi materi, Prof. Dr. Ir. Hj. A. Majdah M. Zain memaparkan data yang cukup mengejutkan. Ia menyebut jumlah penduduk Indonesia mencapai ratusan juta jiwa dengan hampir setengahnya adalah perempuan. Namun, dominasi jumlah tersebut belum diiringi kontribusi optimal di berbagai sektor.


Ia juga menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Berdasarkan survei nasional, satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan, baik verbal, fisik, maupun berbasis digital. Fakta ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan.


Majdah juga menyinggung kasus kekerasan seksual yang terjadi di sejumlah kampus ternama. Menurutnya, latar belakang pendidikan tinggi tidak otomatis menjamin karakter yang kuat. Ia menekankan pentingnya pembentukan karakter dan kesadaran sejak di lingkungan kampus.


Data lain yang disampaikan menunjukkan puluhan ribu kasus kekerasan seksual dilaporkan dalam satu tahun. Angka ini memperkuat urgensi peran perguruan tinggi sebagai pusat edukasi dan perubahan sosial.


Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci pemberdayaan perempuan. Pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, hingga komunitas harus bekerja bersama agar gerakan perempuan tidak berhenti di level wacana.


Menurutnya, jika kolaborasi berjalan konsisten, program pemberdayaan perempuan dapat menjangkau hingga akar rumput. Hal ini diharapkan mampu mendorong perempuan Indonesia lebih berdaya dan berperan di tingkat global.


Forum Women’s Talk Series ini akhirnya bukan sekadar peringatan Hari Kartini dan Hari Bumi. Diskusi yang berlangsung justru membuka isu besar tentang masa depan gerakan perempuan, keamanan kampus, hingga peran perguruan tinggi dalam perubahan sosial.


Pertanyaannya kini, apakah gerakan ini benar-benar akan berlanjut dan berdampak luas? Ataukah hanya menjadi diskusi yang berhenti di ruang seminar? Waktu yang akan menjawab.


(Red)