Soppeng, Celebesindo.com, Suasana Jumat pagi di SD Negeri 7 Salotungo tampak berbeda. Bukan deru kendaraan atau hiruk pikuk aktivitas belajar yang mendominasi, melainkan irama sapu yang menyentuh tanah, langkah-langkah kecil siswa menyusuri halaman sekolah, serta tangan-tangan yang sigap memungut sampah. Jum'at (6/2/2026).
Aktivitas sederhana itu menjelma menjadi gerakan bermakna, membersihkan lingkungan sekaligus menata jiwa dan menguatkan raga.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Bupati Soppeng Nomor 100.3.4.2/686/DLH tentang Gerakan Jumat Bersih. Namun, bagi keluarga besar SDN 7 Salotungo, Jumat Bersih bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah praktik kesadaran hidup sehat yang menyeluruh, mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan lingkungan.
Kepala SD Negeri 7 Salotungo, Abdul Asis, S.Pd.I, menegaskan bahwa kebersihan lingkungan memiliki keterkaitan langsung dengan kualitas tumbuh kembang peserta didik.
“Anak-anak membutuhkan ruang yang sehat untuk tumbuh secara optimal. Udara yang bersih, lingkungan yang tertata, dan kebiasaan merawat sekitar akan membentuk tubuh yang kuat sekaligus jiwa yang tenang,” ujarnya.
Menurutnya, Jumat Bersih adalah latihan kesadaran sejak dini. Anak-anak tidak hanya diajarkan untuk membersihkan, tetapi juga memahami makna di balik tindakan tersebut bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga diri sendiri dan orang lain.
Selama kegiatan berlangsung, seluruh warga sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa, terlibat aktif. Gerakan menyapu, mengangkat, dan mengumpulkan sampah menjadi bentuk olahraga ringan yang melatih koordinasi tubuh, meningkatkan kebugaran, serta melancarkan peredaran darah.
Di sisi lain, proses pemilahan sampah memberikan edukasi penting tentang disiplin dan tanggung jawab. Sampah anorganik dikumpulkan dan dikelola melalui Bank Sampah Sekolah, sementara sampah organik diolah di unit pengomposan.
Pola ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga mengajarkan prinsip keberlanjutan dan keseimbangan antara manusia dan alam.
Lebih dari aktivitas fisik, Jumat Bersih di SDN 7 Salotungo menjadi ruang pemulihan psikologis. Kerja bersama menumbuhkan rasa kebersamaan, memperkuat ikatan sosial, serta mengurangi jarak antarsesama. Anak-anak belajar bekerja tanpa sekat, saling membantu, dan menghargai peran masing-masing.
Nilai-nilai kearifan lokal Bugis turut menjadi fondasi kegiatan ini. Siri’ na pacce menumbuhkan rasa malu untuk mengotori lingkungan dan empati terhadap sesama. Sipakatau mengajarkan saling menghargai, sementara getteng menanamkan konsistensi dalam menjaga kebersihan. Nilai-nilai ini berperan penting dalam membangun kesehatan sosial dan emosional peserta didik.
Pemahaman bahwa kebersihan adalah bentuk pencegahan terbaik mencegah penyakit, konflik, serta sikap abai membuat SDN 7 Salotungo dikenal sebagai sekolah yang konsisten menjaga lingkungannya.
Konsistensi tersebut kerap berbuah prestasi dalam berbagai lomba kebersihan dan lingkungan hidup di tingkat daerah.
Lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan tertata rapi menjadi cerminan budaya sekolah yang sehat dan berkarakter. Anak-anak tumbuh dalam suasana yang mendukung pembelajaran, kreativitas, dan ketenangan batin.
Melalui Gerakan Jumat Bersih, SD Negeri 7 Salotungo menegaskan satu pesan penting: lingkungan yang bersih menumbuhkan raga yang sehat, dan kebiasaan merawat lingkungan menumbuhkan jiwa yang kuat serta tenang.
Dari halaman sekolah yang terawat, para siswa belajar bahwa kesehatan bukan hanya urusan tubuh semata, tetapi juga keseimbangan antara hati, pikiran, dan kehidupan bersama. Sebuah pelajaran hidup yang sederhana, namun berdampak panjang bagi masa depan generasi penerus.
(Red)
