Sengkang, Wajo, Celebesindo.com, Turnamen Pickleball Kuliner Open se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang digelar di Sengkang, Kabupaten Wajo, pada 17–18 Januari 2025, tidak sekadar menjadi ajang adu keterampilan olahraga.
Lebih dari itu, turnamen ini menjelma sebagai panggung pembuktian kepemimpinan inspiratif—ketika nilai kerja, disiplin, dan visi pembangunan manusia mampu diterjemahkan secara nyata di luar ruang birokrasi.
Sorotan tertuju pada Aryadin Arif, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Pickleball Indonesia (IPF) Soppeng. Sosok ini tampil unik: seorang birokrat yang berhasil menyatukan dua dunia yang kerap dipandang terpisah—pengabdian pemerintahan dan pembinaan prestasi olahraga.
Di bawah kepemimpinan Aryadin Arif, IPF Soppeng tidak dibangun secara instan atau serba cepat. Organisasi ini tumbuh melalui perencanaan matang, konsistensi latihan, serta budaya evaluasi berkelanjutan.
Pendekatan tersebut mencerminkan filosofi kerja yang sama saat mengelola sektor pertanian: menanam dengan kesabaran, merawat dengan disiplin, dan memanen dengan rasa syukur.
Pada turnamen bergengsi di Sengkang tersebut, IPF Soppeng menurunkan enam pasangan terbaik untuk menghadapi 64 pasangan unggulan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Langkah ini bukan sekadar partisipasi, melainkan strategi terukur yang sarat kepercayaan pada hasil pembinaan jangka panjang.
Hasilnya berbicara lantang. Pasangan Cibot–Agus tampil penuh determinasi sejak babak awal hingga menembus partai puncak. Dengan permainan yang solid, komunikasi yang matang, serta mental bertanding yang tenang, mereka berhasil mengunci posisi runner-up, sebuah capaian prestisius di tengah ketatnya persaingan regional.
Di laga final yang berlangsung menegangkan, Cibot–Agus menunjukkan sportivitas dan ketangguhan.
Meski belum berhasil merebut gelar juara, penampilan mereka mengirimkan pesan kuat: Soppeng hadir sebagai kekuatan baru dalam peta pickleball Sulselbar.
Bagi Aryadin Arif, prestasi tersebut bukanlah tujuan akhir. Ia memandang olahraga sebagai instrumen strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Olahraga adalah investasi karakter. Ketika atlet dibina dengan nilai disiplin, kerja keras, dan kebersamaan, dampaknya akan melampaui lapangan pertandingan,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan filosofi kepemimpinan yang tidak semata mengejar hasil, tetapi juga proses dan nilai. Baginya, olahraga dan pembangunan daerah memiliki benang merah yang sama: membentuk manusia yang tangguh, berintegritas, dan berdaya saing.
Keikutsertaan dan keberhasilan IPF Soppeng di Sengkang menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang baik tidak terkotak dalam satu sektor. Dari pertanian hingga olahraga, dari sawah hingga lapangan pickleball, Aryadin Arif menanam nilai, merawat potensi, dan memanen prestasi.
Inilah potret kepemimpinan yang bekerja dalam senyap, namun berbicara lantang melalui hasil nyata. Pickleball Soppeng terus melaju—karena dipimpin dengan visi, keteladanan, dan keyakinan pada proses.
(Red)
