MASIHKAH ILMU BERBERKAH INTEGRITAS DAN CINTA(Sebagai Renungan Trias Etika dan Pelita Peradaban di Tengah Arus Digitalisasi) -->

Translate


MASIHKAH ILMU BERBERKAH INTEGRITAS DAN CINTA(Sebagai Renungan Trias Etika dan Pelita Peradaban di Tengah Arus Digitalisasi)

CELEBESINDO
Selasa, 25 November 2025

By Karim Mattarima, S.Pd., M.Pd., Ph.D Pimpinan Sekolah Budaya Bugis (SBB) La Temmamala Soppeng. 

Idealnya, November sebagai bulan Guru Nasional setiap tahun dijadikan ruang renungan dan refleksi kolektif guru tentang bagaimana capaian didikan bagi anak-anak bangsa dan apa-apa saja yang masih perlu dibenahi untuk mencapai generasi emas, manusia seutuhnya. 

Renungan itu bukan hanya khayalan semata, tetapi renungan yang terimplementasi di ruang-ruang pendidikan dalam jaringan (online) maupun di luar jaringan (offline). 

Implementasinya tetap membawa nuangsa pendidikan adab dan karakter, bukan pencitraan ‘cover’ baik saja. Bukan bungkusan baik tanpa isi yang berkualitas. Cover baik idealnya berisi kualitas baik yang berberkah integritas dan cinta.   

Membangun kesesuaian cover dan kualitas isi pendidikan di tengah arus globalisasi ini perlu terus direfleksi untuk mencari solusi dan jalan terbaik bagi pendidikan anak-anak bangsa menuju persaingan global masa depan. 

Dan peran guru menjadi sangat strategis untuk membangun kesesuaian itu. Pendidikan tidak sama sekali diarahkan untuk menciptakan generasi ala ‘musang berbulu domba’. Integritas adalah bangunan pendidikan yang tak boleh ditawar. Musang tetap musang dan berbulu musang, serta domba tetap domba dan berdulu domba. 
  
Ruang-ruang pendidikan dalam jaringan (online) maupun di luar jaringan (offline) harus terbangun dengan ‘seiring sekata’. Tujuannya harus seirama dan sejalan. Sajian pada kedua ruang pendidikan itu harus konsisten menampilkan informasi edukatif untuk membangun pelita peradaban. Tidak kemudian menampilkan informasi yang justru mendestruksi pelita peradaban. 

Arus perubahan yang semakin deras tidak selalu diidentikkan dengan suatu kemajuan, akan tetapi dijadikan inspirasi untuk mengelola perubahan itu agar benar-benar bernilai kemajuan bagi bangsa dan negara. 

Sama halnya dengan profesi guru yang tidak lagi hanya identik dengan ruang kelas fisik dan papan tulis, tetapi peran guru semakin berubah dan maju menjadi peran multidimensional, yang bukan sekedar pendidik dan guru, tetapi guru sebagai fasilitator pembelajaran digital, pengasuh moral, sekaligus penjaga nurani sosial.

Peran multidimensional guru sebagai fasilitator pembelajaran digital, pengasuh moral, sekaligus penjaga nurani sosial perlu terus diperkuat di era teknologi kecerdasan buatan (artificial intelegencent) dan otomasi, di mana logika pembelajaran semakin membutuhkan guru sebagai pelita yang menavigasi dan menerangi arah peradaban. 

Guru bukan sekedar sebagai operator pembelajaran yang hanya menggunakan media digital sebagai media pembelajaran dan sumber pembelajaran, yang kemudian mendestruksi peran multidimensinya di ruang pendidikan. Destruksi peran guru itulah dapat berakibat fatal bagi arah peradaban. 

Konteks inilah menjadikan guru perlu memegang teguh konsep ilmu, integritas, dan cinta sebagai ‘trias etika pendidikan’ untuk memastikan misi pendidikan tetap visioner, humanis, dan berkeadaban. 

Ilmu sebagai ‘trias pertama’ mencerminkan keharusan bagi guru untuk memiliki penguasaan konseptual dan pedagogis yang mendalam untuk menjalankan tugas mulianya. 

Konseptual ilmu yang akan ditransfer ke anak-anak benar-benar dikuasai secara mendalam. Begitu juga cara mentransfernya dengan pedagogis yang matang. Namun, pendidikan modern tidak hanya sebatas pada transfer ilmu saja, tetapi guru perlu menginspirasi anak-anak untuk berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills), kreativitas, dan dengan daya kritis yang matang. 

Guru perlu menjadikan ruang-ruang pendidikan itu sebagai ruang inspiratif bagi setiap anak. Bahkan, di era digitalisasi pendidikan sekarang ini, literasi digital, pemikiran komputasional, dan adaptasi pedagogis ditempatkan sebagai kompetensi inti guru masa depan. 

Integritas sebagai ‘trias kedua’ mencerminkan kekuatan amanah dan tanggung jawab. Bahkan integritas itu adalah salah satu nilai moral yang paling dihargai dalam kehidupan pribadi, profesional, dan sosial. Integritas mencerminkan konsistensi antara perkataan, tindakan, dan nilai-nilai yang dianut seseorang. 

Orang yang berintegritas dikenal sebagai individu yang jujur, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab. Integritas guru di ruang-ruang pendidikan menjadi nilai yang perlu dipertaruhkan dalam mendidik anak di depan ruang kelas dengan pantauan masyarakat dan orangtua anak itu sendiri. 

Kegiatan yang dapat mengganggu atau bahkan merusak integritasnya sebagai guru dapat dijauhi untuk menghindari ‘preseden’ buruk bagi guru, yang secara makro merusak masa depan peradaban. 

Momen bulan November di mana Hari Guru Nasional inilah tempatnya merenung dan menjaga integritas guru sebagai cermin  keberlangsungan pendidikan yang berintegritas menuju pendidikan humanis dan berkeadaban. 

Integritas menjaga pendidikan dari manipulasi tujuan, komersialisasi, dan pengaburan nilai-nilai moral yang bertumpu pada kejujuran serta tanggung jawab. 
    
Guru bukan manusia yang bebas tekanan dalam menghadapi kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, namun guru tetap harus berintegritas dalam memegang teguh misi moralnya sebagai penjaga martabat pengetahuan dan karakter bangsa. Guru perlu menunjukkan jati dirinya sebagai profesi yang paling di depan dalam membangun pendidikan bangsa yang berkeadaban.  
 
Arus perubahan yang begitu deras juga menjadi ujian bagi guru dalam mencintai profesinya. Olehnya itu, cinta menjadi ‘trias ketiga’ dalam etika pendidikan. Karena pentingnya cinta dalam dunia pendidikan, kementerian agama Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Prof. Nazaruddin Umar menyebut kurikulum sekolah agama sebagai kurikulum berbasis cinta. 

Kurikulum berbasis cinta adalah sebuah gagasan inovatif dalam dunia pendidikan yang tentu menyoroti pentingnya nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan kedamaian dalam proses pembelajaran. 

Harapannya adalah melahirkan generasi muda yang memiliki karakter mulia, mampu menghargai sebuah perbedaan berdasarkan cinta, dan berkontribusi positif bagi masyarakat yang flural atau yang beragam beragam. 

Bukankah harapan ini sesuai dengan visi pendidikan yang visioner, humanis dan kerkeadaban?
Dalam konteks filosofi pendidikan, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih saying, maka pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia. 

Untuk membangun usaha sadar ini, guru harus memiliki ‘cinta’ bagi semua dalam mengajar sebagai implementasi awal penjagaan moral dan karakter menuju bangsa berkeadaban.  

Cinta guru perlu direfleksi pada implementasi pedagogi, apakah sudah bersandar pada relasi kemanusiaan yang mengedepankan kepedulian, empati, dan perhatian tulus terhadap anak-anak. Perlu diingat bahwa di luar ilmu dan integritas, cinta adalah kekuatan paling halus sekaligus paling kuat dalam pendidikan. 

Fakta dapat saja mudah diajarkan melalui algoritma di era digitalisasi pendidikan, akan tetapi kehadiran cinta dan kepekaan rasa dalam pendidikan menjadi penting dan bahkan pembeda utama antara pengajaran mekanistik dan pembentukan manusia seutuhnya. 

Mendidik sepenuh hari, setulus jiwa dan sekuat raga, tanpa pamri, dan dengan cinta perlu ditumbuhkembangkan di tengah gelombang disrupsi teknologi. Jalan ini akan menghadirkan pendidikan yang bermakna, humanis dan berkeadilan sosial.  

Guru kini berada di centrum gravity dot, titik silang antara inovasi dan tradisi, antara modernitas dan nilai lokal, antara efisiensi mesin dan kehangatan nurani manusia. Namun demikian, teknologi tidak boleh dihindari dan diabaikan, pendidikan harus mengadopsinya tanpa menyerahkan kemanusiaannya. 

Guru harus menguasai alat digital dan mampu mengopersaikannya, akan tetapi tidak menyerahkan  moral kepemimpinan ataupun kepemimpinan moral pada langkah algoritma. 

Guru tetap perlu memperkokoh perannya sebagai ‘navigator’ peradaban, bukan sekedar ‘operator’ teknologi. Mengajar bukan satu-satunya kekuatan guru hari ini, tetapi kekuatan guru adalah kemampuan menimbang, memilih dan menandu. 

Kekuatan trias etika pendidikan menjadikan guru cerdas dan efektif karena ilmunya, menjadikan guru terpercaya dan terhormat karena integritasnya, dan menjadikan guru abadi dalam ingatan sepanjang hayat oleh murid-muridnya karena cinta ‘tulusnya’. 

Guru tidak langsung melihat murid-muridnya berhasil dalam waktu cepat, tetapi  ilmu, moral, dan kasih sayang yang telah ditanamkan pada muridnya waktu silam akan tumbuh menjadi pohon peradaban di masa depan. Seperti ungkapan Ki Hadjar Dewantara, “bahwa guru adalah penuntun jiwa,” dan dalam konteks digital global, peran itu semakin tak tergantikan.

Momen November sebagai Bulan Guru Nasional bukan untuk sekadar memberi apresiasi atau menerima hadiah karena alasan pengabdian, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah keinginan memperbarui komitmen bahwa bangsa ini hanya akan besar bila gurunya hebat dalam ilmu, integritas, dan cinta yang tumbuh, hidup dan terimplementasikan dalam keseharian di ruang-ruang pendidikan era digital ini. 

Guru adalah cahaya penerang peradaban yang tidak pernah padam dalam kondisi apapun. Arus perubahan boleh ‘bertiup sekeras ‘angin puting beliung’ tapi pelita guru tak pernah ‘masuk angin’, apalagi sampai padam.  

Guru adalah lentera dalam kegelapan, yang menuntun langkah menuju jalan terang. Ilmu yang diberikan tak hanya memenuhi kepala, tetapi juga membentuk hati dan masa depan. Setiap kata yang diajarkan adalah doa yang akan terus mengiringi langkah setiap muridnya. Terima kasih, Guru. Karena dari tanganmulah masa depan dibentuk dengan penuh kesabaran. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi jasamu dikenang sepanjang masa. Selamat hari Guru Nasional 2025

Watansoppeng, 25 November 2025