Dr. Karim : Ritual Maddoja Bine masih terus dibudayakan oleh kalangan masyarakat petani Soppeng -->

Translate


Dr. Karim : Ritual Maddoja Bine masih terus dibudayakan oleh kalangan masyarakat petani Soppeng

Minggu, 30 Januari 2022

Dr. Karim saat di wawancarai tim Radio RRI (Ist).

Soppeng, Celebesindo.com,-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Soppeng berselaras dengan RRI NetTV Pro4 Makassar dalam upaya untuk terus menggelorakan pelestarian Budaya yang ada di Bumi Latemmamala. Sabtu, 29 Januari 2022 di Desa Kessing tepatnya di halaman kediaman Wakil Bupati Soppeng digelar khusus peliputan Obrolan Budaya yang membahas tentang ritual "Maddoja Bine". 

Dikesempatan obrolan budaya yang bertindak sebagai narasumber Ir. H. Lutfi Halide, MP (Wakil Bupati Soppeng) dan Dr. Karim, S.Pd.,M.Pd (Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Soppeng).


Mengawali peliputan obrolan budaya, Dr. Karim diberi kesempatan oleh reporter RRI untuk memaparkan apa itu Maddoja Bine.

Dalam paparan penjelasannya Maddoja bine ini lebih menarik sebagai identitas Budaya karena di Kabupaten Soppeng ini, maddoja bine telah menjadi identitas budaya. 

Itu karena hampir seluruh penduduk masyarakat Soppeng adalah petani. Maddoja bine ini adalah identitas budaya tani, ini dilakukan sebelum menabur benih padi ke sawah mereka, yang menarik adalah mengapa perlu Maddoja atau begadang untuk bine atau bibit benih padi. Identitas yang muncul disini adalah unsur penjagaan dan pemeliharaan, penghormatan, kepedulian terhadap lingkungan.

Maddoja bine merupakan salah satu tradisi pertanian yang biasa dilaksanakan petani Bugis sebagai bentuk penghormatan kepada Sangngian serri (Dewi Padi menurut orang Bugis).


Hal menarik lainnya dalam ritual ini adalah ditukarkannya sureq i Lagaligo dalam epos Meong Mpalo Karellae di dalam kisah tersebut sarat dengan nilai kebaikan yang sejalan dengan nilai-nilai pendidikan islam malah.

Proses ritual maddoja bine mempunyai rangkaian yang secara umum struktur pelaksanaan maddoja bine dibagi menjadi Tiga bagian, yakni Pembukaan berupa pembacaan Doa / Mantra oleh sandro wanua, Pembacaan sureq (Barzanji), dan Penutup berupa doa untuk keselamatan bersama.

Dijelaskan pula bahwa Karakter suku Bugis di Kabupaten Soppeng sudah membudaya dari dulu sampai sekarang, itu karena basis Kabupaten Soppeng sebagai daerah pertanian, maka suku bugis di Soppeng ini memiliki karakter pekerja keras, telaten dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya dan relegius. 

Artinya kegiatan apa saja yang akan dilakukan selalu diawali dengan doa sebagai bukti penyerahan diri dan segala hasilnya kepada Allah SWT untuk mengaturnya.

Kemudian waktu khusus pada pelaksanaan maddoja bine yaitu Waktunya mengikuti musim tanam yang pada umumnya Dua kali setahun saat musim tanam padi. Wilayah Kabupaten Soppeng termasuk daerah yang subur karena ditengahnya terbentang irigasi yang sangat panjang yang cukup memenuhi kebutuhan para petani sepanjang waktu hingga warga dapat panen dua kali dalam setahun.

Wujud kebersamaan dan kekompakan yang bisa dipetik dari ritual maddoja bine.
Maddoja bine menjadi sarana komunikasi ritual yang membangun kebersamaan dan kekompakan ini. Karena berbasis pada dua hubungan yaitu hubungan vertikal dengan sang pencipta dan hubungan horisontal dengan sesama masyarakat petani pada khusisnya, menempatkan patotoe (Dewata seuwae, Tuhan yang Esa) sebagai pusat pengaturan kosmos. Dalam konteks ini, maddoja bine mempunyai tujuan utama agar manusia dapat menjalin hubungan dengan patotoe, sang penentu nasib.

Hubungan yang terjadi, yakni antara manusia (Petani) dengan patotoe merupakan hubungan yang bersifat vertikal, yaitu yang berkuasa dan yang dikuasai. 

Hubungan yang terjalin dengan baik akan menimbulkan dampak yang baik bagi petani. Begitu pula dengan hubungan baik yang tercipta antara petani dengan entitas gaib lainnya, akan menghindarkan petani dari gangguan makhluk gaib tersebut. 

Selain itu, maddoja bine sebenarnya juga menjadi sarana komunikasi horisontal dengan sesama manusia. 

Relasi horisontal yang baik pada akhirnya akan menciptakan keharmonisan sosial dalam masyarakat. 

Keharmonisan sosial yang terbangun dengan baik menjadi prasyarat sangiang serri bersedia tinggal di satu daerah, sebagaimana yang diceritakan dalam sureq meong mpalo karellae.

Diakhir obrolan budaya, giliran Bapak Wakil Bupati Soppeng menyampaikan pesan kepada seluruh pemirsa bahwa untuk mempertahankan dan meregenerasi masyarakat yang akan datang, yang pertama, selama Soppeng masih menjadi daerah pertanian khususnya petani di sawah, tentu memang perlu memasukkan unsur unsur kekinian masyarakat  terutama unsur agama kedalam kegiatan maddoja bine. Maddoja bine tidak hanya menjadi kegiatan budaya tetapi akan menjadi bagian dari kegiatan agama.

Yang kedua, terlu terus mengekspose atau memperkenalkan ke khalayak tentang maddoja bine ini kepada generasi muda dengan berbagai pernak pernik digitalnya. Olehnya itu pemerintah daerah melalui perangkat daerah yang terkait akan terus mendorong dan memfasilitasi pelestarian budaya dengan berbagai kegiatan dan program. 

Dan Alhamdulillah di Kabupaten Soppeng ada Sekolah Budaya Bugis La Temmamala yang terus eksis dalam melakukan pergerakan pelesterian budaya yang sudah memasuki angkatan VI dan tahun ini Kabupaten Soppeng akan melakukan pemilihan Duta Budaya sebagai bentuk pelestarian budaya dengan melibatkan generasi muda.

Published : ARS